Abiogenik Seni dari Langit Kale

Sabtu, 30 November 2024 12:14 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Abiogenik seni kata seni. Artikel santai mirip bunga rampai sederhana menyoal, apaan sih kira-kira makhluk seni. Salam kasih sayang bertukar cerita saudaraku.

Itu judul artikel kurang deskriptif. Biarin. "Seni, sebaiknya tidak terjebak kultus, dogma monorel." Kata siapa, 'kata gue', emang enggak boleh. Boleh saja. Kalau gitu boleh juga dong 'terserah gue' nah, itu dia. Boleh ada, mungkin di antaranya, barangkali loh. Bisa juga tidak. Bisa juga oke. Kembali pada tujuan, kesenimanan. 

Tak boleh pula menulis pemahaman seni asal goblek, mengutip kiri kanan, so why gituloh; sebab seni independensi valid universalisme empirik individualisme, tak sekadar paham lantas menuliskannya mengutip kiri kanan, eh halah walah kadalah. Gawat. Bukan pula asal sebut genesis seni bermula dari ini itu, kutip lagi kiri kanan wkwkwk mau jadi penulis tukang kutip. Enggak kan. So pasti enggak gitukan. Sip.

Nah mungkin kalau dengan cara itu, maka 'makhluk seni' tersebut, bisa disebut seni-eksentrik-isme.; Salah tebak deh. Gini ya tulislah dengan cara menulis halus.; Seni adalah sains. Menjadi seni ini, perasaan. Seni itu, refleksi. Seni ini, transendental. Seni; sains, perasaan, refleksi, transendental. Apa iya begitu. Beneran nih. Belum jelas benar kalau mau mendudukan, jenis makhluk apakah si seni icu sebenarnya benar.; Mewujud atau tanwujud.

Melebar dong. Kalau menyempit masuk dalam kotak istilah, dari nun di sana, jauh nyeberang laut naik pesawat, itupun kalau mau bertemu kotak-kotak seni atau pengotakan seni, ini-itu. Baca saja sejarahnya kalau mau. Banyak banget dah. Kalau mau pula masuk kotak pandora mengotak, seni, dalam kotak, sampai jadi fosil di dalamnya sebab dibikin kotak-kotak, oh tak seperti itulah hai; iman si seni itu seluas langit Ilahi anti dogmatis.

Lantas, umum terjadi muncul istilah, seni, mencoba membaca 'selera pasar' untuk seni, ini-itu. Timbul pertanyaan, pasar apa, selera apa, oh mengapa. Enggak boleh? Oh, boleh saja silakan saja, kalau ada pasarnya, dimana, kapan saja, sesuka pilihan dari hal terkembang di masing-masing kepala, sukma jernih sang seni, di era autotekno digital kemodernan, terkini sekalipun.

Muncul lagi pertanyaan, kalau enggak ada pasar, seni mau dibawa kemanakah. Tergantung tujuan dari senimannya. Untuk apa seni-nya, jenis apa seni-nya, mau jalan-jalan kemana seni-nya, apa bentuk seni-nya, sebab apa dia berkenalan dengan makhluk disebut, seni. Absurd neh. Enggak juga sih, kalau mau merujuk pada seni, mungkin, sebagai makna dari empiris. Itupun, masih kalau mungkin-bisa terjawab, sekaligus pertanyaan. Makhluk apa-an sih seni.  

Jadi sebenarnya, seni, makhluk tak nyatakah, gitu, tapi eksis, menjelma pada seni kesenimanan manusia pelakunya. Enggak gitu juga, sebab si seni, masih tak jelas. Apa sih sebenarnya, seni. Dia, terasa hadir kalau di tambah kata sifat atau kata kerja. Menjadi, seni politik, seni rupa, seni arsitektur, seni komunikasi, seni tata busana, seni tata boga, seni kriya, seni musik, seterusnya seabrek-abrek, lagi, sila berselancar menyoal seni di mesin komputer anda.

Maka akan terjadi temu muka dengan, laman filsafat seni, karya seni sejagat, lagi, dari seni lampau, terkini, hingga seni alternatif dwimatra ataupun trimatra, plus musik lampau bertemu symphonic metal hingga alternatif pula. Keren-keren so pasti. Sebab di lahirkan oleh kreativitas berbudi, bukan hasil nyomot pendapat si anu atau si itu menjadi alias ini itu, lantas menuliskannya, seolah-oleh hasil pemikiran si orang itu alias seolah-olah menjadi pendapatnya sendiri.; Yak ellah kasian deh lo. Kagak boleh tau. Wah. Belajarlah dengan baik, benar, sahih. Jangan jadi plagiat pemikiran orang lain. 

Selamat berselancar. Semoga pula bertemu, Zaha Hadid, seniman, perancang seni arsitektur, asal Irak, bermukim di Inggris, dijuluki ratu kurva, oleh The Guardian. Ketemu perancang baju renang muslim, Aheeda Zanetti. Ketemu, Kahlil Gibran, sastrawan. Ketemu, WS. Rendra, budayawan. Ketemu, N. Riantiarno, dramawan. Ketemu, Putu Wijaya, dramawan sekaligus perupa. Ketemu, Antoni Gaudí, arsitek, karyanya di pengaruhi, seni, neo-Gotik-teknik Oriental. Ketemu, Christo Vladimirov Javacheff dan Jeanne-Claude Denat de Guillebon, keduanya seniman instalasi lingkungan gigantik. Ketemu, Marcel Duchamp, perupa multitalenta, dia mempengaruhi perkembangan seni konseptual-Dadaisme. Ketemu, Gunadharma, arsitek Candi Borobudur. 

Pamit dulu ya. Woo, nanti dulu. Obrolan belum selesai Bung. Wah, hamba mau pindah kelain hati nih. Artkel ini pernah aku tulis beberapa waktu lalu di sini loh. Sepertinya gitu deh.

Bagaimana dengan, seni, sastra online. Hah! Anda ini pertanyaannya ada aja. Beneran. Ceritanya begini, suatu hari hamba jalan-jalan sore, selintas pintas mendengar obrolan sepasang burung dara, nangkring di lampu taman. Singkatnya, begini "Ohh, itu acara dari kaum sastra online." Hahhh! Sepertinya, bagai tersirat kesan kesinisan dari kalimat dalam tanda petik itu ... Anda ini dari tadi diajak ngobrol kagetan melulu deh.

Terus, kalau, sastra online, salah gitu. Lantas bukan sastra, gitu. Wah. Gawat banget nih. Sebentar Bung, Enggak pindah kelain hati dulu ya. Lanjut ngobrol dulu kita. Setelah teh hangat, sekarang waktunya memesan kopi, biar lancar jaya ngobrolnya.

Jadi bagaimana. Menyoal istilah, seni, sastra online. Wah! Ketemu kotak mengotak lagi dong. Sastra ya sastra, mau versi online atau tidak, istilah itu, hanyalah alat bantu, seperti sendok-garpu. Mau makan menggunakan tangan, oke juga, kan. Esensi, tetap menyuap makanan sehat, ada, pada kesehatan seni sastra. Kalau non-online, lantas melahirkan karya seni sastra tak sehat, menimbulkan pandemi negatif, gimana, gawat loh hai. Jadi begini ya sobat, ehem.

Sastra ya sastra, mampu dipahami seluas publik secara saksama, asyik, keren, bermanfaat-murah, bahkan gratis, publik bisa mengakses data sesuai maunya. Meski tetap berbayar kuota, pulsa. Lagi pula sekarang ini, bukan lagi zamannya susastra menara gading. Karya sastra tak harus berbahasa sulit rumit sampai sulit dipahami, yak ellah. Sastra jangan dibikin ribet, di era kini. Meskipun kepurbaan, merupakan salah satu tolok ukur kemodernan zamannya. Seni sastra lampu hingga kini serentak bisa di akses kok. 

Mau sastra online/daring ataupun non.online/non.daring, padabae Bung-sama saja. Zaman tekno bergulir, ozon membaik, menurut penelitian sains dunia, akibat manusia bertahap mengurangi kertas, meski sampah plastik belum terkendali maksimal. Kalau penggunaan kertas berkurang, deforestasi, bakalan menurun, hutan sehat. Sekalipun, dampak autotekno digital kemodernan berkelanjutan, mungkin pula berdampak pada kehidupan manusia kelak, mungkin loh.

Hamba akan naik angkot berikutnya, pindah kelain hati. Meski, soal menyoal, seni, makhluk apaan sih, belum jua ada jawaban valid membumi, sangking banyaknya pendapat para pakar sejagat, dari era filsafat, kesejarahan, geologis, maupun seniman/kreator seni. 

Kalau begitu, hamba mencoba menjawab, menurut hamba, apa itu, seni; perasaan, sains. Menurut hamba loh. Bukan soal salah atau benar. Andapun, sila punya jawaban sendiri, sah sah sah. 

Apalagi kalau mau meminjam istilah kaum elite politik ketatanegaraan dunia, singkatnya; sebuah negara bebas berpolitik, berpendapat-bertanggung jawab, sesuai undang-undang negara tersebut. Selesai sampai di situ. Salam damai di hati saudaraku. Adem.

***

Jakarta Indonesiana, November 30, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler