Bersedekah Tak Perlu Menunggu Kaya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Seorang pemulung mengangkut bungkusan besar sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada Minggu (26/8) siang. TEMPO/Abdi Purnomo

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bersedekah Tak Perlu Menunggu Kaya

    Ia mengajari bersedekah bisa dilakukan dengan beragam cara, tak perlu menunggu kaya.

    Dibaca : 4.866 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sudah beberapa pekan terakhir ini saya tidak melihat bapak tua yang kerap membantu saya menyeberang jalan di dekat rumah. Entah kenapa, kapan saja saya hendak menyeberang, bapak tua itu pas lewat di dekat saya dengan memanggul karung berisi barang-barang bekas. Ya, bapak tua itu memang pemulung.

    Usianya mungkin memang lebih tua dari saya, kecuali bila raut wajahnya yang berkerut dan terbakar panas matahari itu sekedar pertanda kerja kerasnya setiap hari. Ketika banyak orang terus-menerus merasa kekurangan dengan menumpuk harta di balik dinding lemarinya, bapak tua itu terlihat ikhlas dengan apa yang ia dapatkan (Keikhlasan bukan untuk ditanyakan dan dikonfirmasi, melainkan kesan yang tertangkap).

    Jika saya berpapasan ketika berjalan, ia selalu tersenyum dan menyapa, “Badhe kamana? (Mau kemana?).” Tentu saja, saya selalu menjawabnya. Setiap kali berpapasan dengan bapak tua itu, peristiwa ini seperti sejenis pengingat bagi saya. Hal ini baru saya sadari setelah cukup lama saya tidak bertemu dengan bapak tua itu, yang entah sekarang ada di mana: sakit, meninggal, atau pindah—saya tidak tahu.

    Yang saya heran, mengapa saya tidak mencoba berkenalan—saya kerap terpaku sembari menyeberang dan kemudian menyadari dia sudah berbalik pergi. Di tengah lalu lintas yang semrawut dengan pengendara motor dan mobil yang kurang peduli kepada pejalan kaki, keberanian dan kesediaannya untuk ‘menyeberangkan’ saya tak bisa saya lupakan.

    Suatu ketika saya mengendarai mobil mertua dan berusaha menyeberang jalan di tengah kepadatan lalu lintas. Bapak tua itu seolah tiba-tiba saja muncul dan membantu menghentikan arus lalu lintas, memudahkan saya untuk menyeberang.

    “Tidak, tidak usah. Terima kasih,” ujar bapak tua itu sembari tersenyum ketika saya menyodorkan uang melalui jendela mobil sebagai tanda terima kasih. “Saya memang bukan orang kaya, dèn, tapi saya juga butuh bersedekah.”

    Saya tertegun. Belum lagi saya mengucapkan sepatah kata, bapak tua itu sudah berbalik pergi. “Mangga dèn,” ujarnya tersenyum sambil berlalu.

    Sembari menyetir, saya memikirkan kembali ucapannya: “Saya butuh bersedekah.” Saya berusaha mencerna dan menduga-duga barangkali yang ia maksudkan adalah karena tidak setiap hari memiliki cukup uang, ia berharap upayanya membantu orang lain menyeberang jalan dapat digolongkan sebagai sedekah--jika tak punya uang, harta, atau makanan, engkau masih bisa bersedekah dengan cara yang lain. Mungkin begitu. Dan keramahannya itu bisa jadi jenis sedekah lainnya yang bisa ia berikan. Dengan bersikap ramah, engkau memberi kedamaian kepada orang lain di sekelilingmu.

    Saya ingin mengonfirmasi hasil pencernaan pikiran saya itu, namun sayangnya sudah beberapa minggu ini saya tak pernah bertemu bapak tua itu lagi. Apakah benar bapak tua itu bermaksud bersedekah dengan caranya sendiri, ataukah ia seorang guru kehidupan? (foto ilustrasi) **

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.