Seni Memimpin Desa - Analisa - www.indonesiana.id
x

widyi utomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Seni Memimpin Desa

    Dibaca : 2.872 kali

    Ada pepatah kuno yang menyatakan bahwa : “Majunya desa majunya negara, mundurnya desa hancurnya Negara”. Pepatah ini bukan hanya sekedar untaian kata tanpa makna. Indonesia terdiri dari 72.000 desa, dan jumlah yang begitu besar ini jika tidak diperhatikan lebih serius maka akan menjadi masalah di negeri kita ini. Dalam menjalankan roda pemerintahan, sebuah desa dipimpin oleh seorang kepala desa. Kepala desa inilah yang bertanggung jawab terhadap roda pemerintahan desa. Peran kepala desa sangat penting, karena seorang kepala desa yang dipilih langsung oleh rakyat harus bisa menerjemahkan janji-janji politik yang telah disampaikan melalui kerja nyata.

    Karso adalah seorang pemuda desa yang tergerak hatinya untuk mengabdi di desa tempat tinggalnya. Melalui pemilihan serentak kepala desa se-kabupaten Tuban tahun 2013, pemuda yang juga berekonomi pas-pasan ini mencoba peruntungan dengan mencalonkan diri menjadi kepala desa di desa Sugiharjo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur. Untuk menjadi kepala desa, tentu tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dilaluinya, apalagi pencalonan seorang kepala desa selalu saja identik dengan politik uang. Bermodal ketulusan dan jiwa social yang tinggi, pemuda yang juga seorang guru drumband ini terpilih menjadi kepala desa mengalahkan incumbent dengan selisih suara yang sangat signifikan. Seorang Karso membuktikan bahwa tanpa politik uang, ia bisa memimpin desa.

    Sugiharjo merupakan desa dengan penduduk sekitar enam ribu jiwa. Sugiharjo terkenal sebagai penghasil kue dan roti yang dijual di pasar-pasar daerah Tuban dan Bojonegoro. Perjalanan seorang Karso memimpin desa dimulai ketika bergulirnya program pemerintah PNPM Mandiri tahun 2009 di desa Sugiharjo. Melalui program ini, Karso bersinggungan langsung dengan masyarakat, mengkoordinasikan tiap-tiap RT untuk membentuk wadah yang mendengar keluhan-keluhan warga kemudian memetakan masalah yang ada. Masalah yang ditampung tersebut akan dibahas sampai tingkat desa dan lahirlah suatu kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut. Semua kegiatan ini dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan dari siapapun. Bahkan seringkali, Karso merogoh koceknya sendiri untuk membiayai kegiatan tersebut. Dari sepak terjang yang dilakukan oleh Karso, yang juga setiap malamnya berjualan pecel lele dipinggir jalan desa ini, warga mulai mengenal dan menaruh harapan yang sangat besar untuk kehidupan desa yang lebih baik.

    Keteladanan Karso terlihat ketika dia menghibahkan 80% lahan bengkok kepala desa untuk rakyatnya (bengkok : lahan garapan milik desa) sedangkan 20% lahan bengkok yang diterimanya dipakai untuk kegiatan social seperti menghadiri hajatan warga dan memberi santunan warga yang meninggal dunia. Untuk menopang kebutuhan sehari-hari Karso mendapatkan gaji sejuta per bulan, yang sangat minim untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, Karso tetap mengajar drumband untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karso memberikan contoh bahwa jabatan tidak digunakan untuk mengeruk keuntungan, tetapi digunakan untuk mengabdi kepada masyarakat.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.