Yusuf Mansur: Saya Gak Bisa Diam - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ustad Yusuf Mansur terlihat di Kantor OJK saat penuhi panggilan oleh Otoritas Jasa Keuangan, di Jakarta, (22/7). TEMPO/Imam Sukamto

yusuf mansur

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Yusuf Mansur: Saya Gak Bisa Diam

    Sementara itu, saya mengundang semua yang berinteraksi langsung dengan saya, soal sedekah dan investasi, agar juga bersuara.

    Dibaca : 6.468 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saya orangnya gak bisa diam. Hehehe. Maunya gerak terus. Mikir terus. Jalan terus.

    Ada orang-orang yang bilang, banyak amat sih yang diurus? Ga keteteran?

    Jawabannya, engga. Kan saya langsung bangun tim. Ngedevelop tim. Mandu tim. Dan memenejemeni tim.

    Bahkan kadang saya suka bercanda sama kawan-kawan yang bercanda juga, "Bukan saya kali yang kebanyakan urusan... Tapi situ yang kebanyakan nganggur...".

    Tentu saja saya bercanda.

    Ini soal leadership. Saya kira.

    Ya. Ini soal leadership.

    Kita cukup mikirin dikit. Buka peluang. Habis itu, persilahkan barisan anak-anak muda yang lain yang bekerja.

    Kerjaan saya ya itu.

    Saat dulu patungan usaha di awal-awal digeber, sejak awal, udah barisan tim yang bekerja.

    Sebentaran doang. Di awal-awal, saya yang mimpin. Habis itu udah tim.

    Sampe sekarang, Hotel Siti, masih terus berlangsung penyelesaiannya. Ada tim dari Daqu. Ada tim dari kontraktor&suplier rekanan. Ada dari Horison selaku pengelola hotel.

    Sekaligus menjawab keraguan orang... Emang Ustadz bisa bikin hotel? Hehehe. Kan ada insinyur-insinyur. Ada arsitek. Ada perusahaan-perusahaan. Yang kita bisa ngegandeng mereka. Ada juga operator-operator hotel.

    Ga ada yang sulit. Bila kerjanya ga sendirian.

    Tahun 2016 ini, satu tower dijadiin pesantren berbayar.

    Ya. Berbayar.

    Yang gratis juga tenang aja. Ada di 6 ribuan titik sampe Juni 2016 ini.

    Dengan menyulapnya jadi pesantren, 1 tower dah ga ada masalah dengan okupansi. Hehehe.

    Kenapa ini saya ceritakan? Bisa jadi akan ada kegaduhan baru terus.

    Bikin apa lagi nih si Yusuf Mansur? Hehehe

    Ya saya mah ga bisa diem. Begitu jawaban saya.

    Ketika Hotel Siti udah on the track proses penyelesaian dan pengembangannya, saya memikirkan yang lain. Mengerjakan yang lain. Mengembangkan yang lain.

    Tapi caranya sama aja.

    Intip peluangnya. Buka dikit. Selebihnya bangun tim. Kembangkan tim. Dan dorong untuk maju, kreatif, dan percaya diri.

    Soal leadership ini mah. Yakin. Dan saya belajar sisi keleadershipan dengan prinsip dan style ini. Yakni, bagi saya, leadership adalah kemampuan untuk mendorong yang lain menjadi leader.

    Betulan loh. Banyak Single Leader. Dia hebat banget kalo dah mimpin. Tapi jadi ga ada ruang gerak buat yang lain.

    Bukankah kepemimpinan itu, atau leadership, adalah juga saat seorang leader memberi ruang gerak bagi yang lain jadi leader?

    Begitu yang saya sampaikan di sesi Leader Talks... Yang diselenggarakan oleh 1 komunitas jejaring leaders di CiputraPreneur baru-baru ini.

    Jadi, jangan kaget. Kalau kemudian saya bikin-bikin terus banyak hal yang baru. Hehehe.

    Jawabannya udah saya sampaikan, saya ga bisa diem.

    Jika pemberitaan diekspose terus setiap hari setiap pekan setiap bulan. Mereka-mereka yang terbiasa mengerjakan 1 kerjaan, "terlalu" fokus, niscaya tambah kepuyengan ngeliat saya dan kami-kami. "Koq banyak amat yang dikerjakan." Padahal saat yang sama, bagi saya dan anak-anak muda yang menyertai saya, semua hal adalah program dan peluang

    Lalu bagaimana soal saya maksa sedekah? Dan soal investasi?

    Tar lagi kapan-kapan saya cerita di Tempo. InsyaaAllah.

    Sementara itu, saya mengundang semua yang berinteraksi langsung dengan saya, soal sedekah dan investasi, agar juga bersuara.

    Yang langsung loh ya... Jangan yang hanya mendengar dari telinga orang, & melihat dari mata orang.

     

    Salam hangat,

    7 Ramadhan 1437H.

     

    YusufMansur, Ubaru.

    Ikuti tulisan menarik yusuf mansur lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.