Mata Air Inspirasi Yang Tak Pernah Kering Di NTT

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mereka menjadi mata air inspirasi yang tak pernah mengering di NTT. Di antara mereka adalah Azalea Ayuningtyas, Marselus Hasan, dan Ahmad Fathul Bari.

Nusa Tenggara Timur adalah provinsi kepulauan dengan bentang darat yang dihiasi oleh sabana. Curah hujan yang rendah dan kondisi lingkungannya membuat provinsi ini kerap diasosiasikan dengan kemiskinan dan kekeringan.

Namun sejatinya, tantangan alam tersebut justru melahirkan pemudi dan pemuda yang gigih berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk provinsi tersebut. Mereka menjadi mata air inspirasi yang tak pernah mengering di NTT. Di antara pemudi dan pemuda tersebut adalah Azalea Ayuningtyas, Marselus Hasan, dan Ahmad Fathul Bari.

Azalea Ayuningtyas

Azalea Ayuningtyas memprakarsai berdirinya Du'Anyam pada tahun 2014 di Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Du'Anyam melakukan pendampingan bagi para ibu rumah tangga yang menjadi pengrajin anyaman di Flores Timur. Produk kerajinan karya tangan tersebut sudah menembus pasar Amerika Serikat.

Du'Anyam memberdayakan perempuan dengan membantu mendampingi dan memasarkan produk kerajinan tersebut ke pasar nasional dan internasional. Para ibu yang mendapat pendampingan Du'Anyam saat ini berjumlah 450 orang dan tersebar di 17 desa dampingan di Titehena, Demonpagong, Lewolema, Solor Timur dan Solor Selatan.

Marselus Hasan

Marselus Hasan telah mendorong pemanfaatan air untuk kehidupan dengan menggerakkan pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro di NTT. Pembangkit ini memanfaatkan potensi aliran air yang tersedia dan berhasil menyediakan listrik bagi lebih dari 1.200 kepala keluarga yang terbagi dalam lima desa di NTT.

Bersama dengan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, perusahaan air minum Ades kemudian menetapkan Marselus sebagai Pejuang Air Ades. Ades berkomitmen untuk membantu program yang dilaksanakan Pejuang Air Ades tersebut dapat berjalan secara berkesinambungan.

Ahmad Fathul Bari

Ahmad Fathul Bari adalah mantan ketua BEM UI yang saat ini menjabat sebagai salah satu ketua Iluni UI. Pada April 2018, Ahmad Fathul Bari mendatangi wilayah yang didiami eks pengungsi Timor Timur di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Ada sekitar lebih dari 200 Kepala Keluarga yang menempati wilayah tersebut.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, warga eks pengungsi Timor Timur tersebut tetap berpikir positif dan tidak banyak mengeluh tentang keterbatasan kehidupannya saat ini. Banyak hal yang sudah mereka lakukan secara swadaya untuk membangun lembaran baru kehidupan mereka sejak pindah dari kampung halamannya.

Mereka sudah membangun sumur namun akses ke sumur tersebut sangat sulit. Mereka perlu naik turun bukit yang cukup terjal sekitar 150 meter. Jika hujan turun, kondisi bukitnya menjadi licin dan lebih sulit untuk diakses.

Melihat kondisi itu, Ahmad Fathul Bari menjalin sinergi dengan beberapa pihak sehingga mereka berhasil membangun pompa, tower, penampung air, dan pipa. Instalasi baru ini membuat distribusi air di wilayah tersebut menjadi lebih mudah.

Kekuatan Optimisme dan Kolaborasi

Tiga contoh mata air inspirasi tersebut telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Keterbatasan bahkan dapat menjadi motivasi untuk melakukan perubahan dan perbaikan.

Mereka juga telah menunjukkan bahwa kekuatan dana bukanlah sumber utama dari perubahan. Namun optimisme dan kerja samalah yang sejatinya menjadi sumber utama untuk perubahan, perbaikan, dan inspirasi bagi negeri.

Bagikan Artikel Ini
img-content
wiji al jawi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua