Biarkan Anak-Menantu Incar Kursi Walikota, Citra Jokowi akan Rusak? - Viral - www.indonesiana.id
x

Presiden Jokowi bersama putra sulungnya Gibran Rakabuming dan cucunya Jan Ethes mengunjungi pusat perbelanjaan di The Park Mall, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu, 1 Mei 2019. Jokowi memanfaatkan liburan Hari Buruh Internasional untuk berjalan-jalan bersama keluarganya. ANTARA/Mohammad Ayudha

Rohmat Eko Andrianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 September 2019

Jumat, 20 September 2019 13:17 WIB

  • Viral
  • Berita Utama
  • Biarkan Anak-Menantu Incar Kursi Walikota, Citra Jokowi akan Rusak?

    Apa salah Jokowi? Ini bukan soal salah atau benar, tapi soal etika dan kepantasan. Dulu pun Presiden Suharto dikritik ketika Siti Hardijanti (Tutut) jadi menteri.

    Dibaca : 14.080 kali

    Barangkali, semua ini tak kebayang oleh sebagian pendukung Joko Widodo,  tujuh  tahun silam.  Jokowi bersama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,  amat dieluk-elukan. Berbaju kotak-kotak merah tua yang khas, mereka tampak sederhana, saat memenangi pemilihan gubernur DKI Jakarta.

    Sejak itu  karir politik Jokowi  bak meteor. Dan hanya  berselang dua tahun, ia pun pindah dari  Balai Kota DKI Jakarta ke Istana  Presiden.  Tapi setelah lima tahun bertahta sebagai Presiden dan terpilih lagi, inilah  yang terjadi. 

    Komisi Pemberantaran Korupsi diperlemah. Lalu, kabar mengenai rencana majunya putra sulungnya, Gibran Rakabuming, sebagai calon Wali Kota Surakarta, menambah gundah sebagian pendukung Jokowi yang  berpikiran jernih.. 

    Apalagi, menantu Jokowi,  Bobby Nasution, juga berancang-ancang maju sebagai calon  wali kota Medan.  Ketua Partai NasDem Sumatera Utara,  Iskandar, mengatakan nama Bobby Bobby masuk radar partainya sebagai  calon wali kota.

    Manuver Gibran
    Sinyal pencalonan  putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming, sebagai walikota Solo  itu semakin kentara.  Gibran   telah menemui Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Rabu 18 September 2019.  Ia menyatakan pertemuan itu untuk membicarakan perkembangan Kota Solo.

    Hanya  Rudyatmo memperjelas isi pembicaraan mereka.  Menurut dia, ada pembicaraan mengenai bursa wali kota.  "Tadi (Gibran) juga bertanya soal pendaftaran,"  kata Rudyatmo.  Gibran yang berdiri di samping Rudyatmo saat wawancara tersebut hanya tersenyum.

    Presiden Joko Widodo  pun sudah mengungkapkan  sikap beberapa bulan sebelumnya. Ia mempersilakan Gibran masuk bursa calon Wali Kota Surakarta. "Silakan, saya demokratis, yang penting di setiap jabatan atau karir apa pun harus tanggung jawab," kata Jokowi saat makan di sebuah warung bersama wartawan di Sukoharjo, Jawa Tengah,  28 Juli 2019.

    Terjebak dalam dinasti politik
    Fenomena  dinasti politik bukan hal  baru di Indonesia. Pada  pemilihan kepala daerah tahun lalu,  banyak calon kepala daerah yang memiliki hubungan keluarga dengan inkumben.   Di level nasional,  dinasti  politik juga muncul dalam tubuh politik seperti PDIP, Demokrat, dan  Nasdem.

    Susilo Bambang Yudhoyono pun berusaha mengorbitkan Agus Yudhoyono menjadi pemimpin nasional .  Begitu pula Megawati yang mengkader putrinya, Puan Maharani. Lalu, apa salah Jokowi?  

    Ini  bukan soal salah atau benar.  Tak ada pula aturan yang melarang.  Ini  masalah etika politik, soal  kepantasan.  Megawati mengorbitkan putrinya ke jabatan menteri ketika ia sudah tak menjadi presiden.  Begitu pula SBY.  Perbedaan ini tipis, tapi penting.

    Dulu Presiden  Suharto pun dikritik lantaran anak-anaknya dapat konsesi bisnis. Masyarakat pun ribut  ketika  Siti Hardijanti (Tutut) jadi menteri.  Bahkan, Tutut yang dilantik menjadi  Menteri Sosial pada Maret 1998 hanya sebentar  menduduki kursi menteri.   Dua bulan kemudian Suharto jatuh.

    Boleh jadi  publik Solo, tak peduli soal bahaya dinasti politik bagi demokrasi.  Mungkin saja  Gibran menang.    Tapi,  citra  Jokowi sebagai pemimpin nasional yang sederhana, demokratis, mementingkan rakyat banyak… barangkali akan terciderai. 

    Baca juga:
    Skandal Korupsi  Menteri Nahrawi: Karena Butuh atau Serakah?
    Siluet Pinoko di Tempo:  3 Alasan Kubu Jokowi Tak Perlu Tersinggung
    Pinokio di Tempo: Cover Akbar Agak Vulgar, Jokowi Lebih Keren

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.