Menteri Nadiem Makarim Kubur Ketimpangan Ujian Nasional - Analisis - www.indonesiana.id
x

Nadiem makarin jadi tumpuan perubahan pendidikan di Indonesia (sumber foto : kemendibud)

Ferguso Kubangun

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 16 Desember 2019 12:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menteri Nadiem Makarim Kubur Ketimpangan Ujian Nasional

    Ujian Nasional (UN) itu bukan "ayat-ayat suci Tuhan". Yang mutlak permanen. Yang tidak dapat diubah sepanjang zaman. UN itu sistem. Skema pendidikan.

    Dibaca : 2.187 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ujian Nasional (UN) itu bukan "ayat-ayat suci Tuhan", yang mutlak permanen. Yang tidak dapat diubah sepanjang zaman. UN itu sistem. Skema pendidikan.

    Sistem dapat saja menyesuaikan kebutuhan. Dapat saja dievaluasi. Masih relevan atau tidak. Sistem itu punya opsi: untuk kebaikan atau membuat keburukan.

    UN sebagai sistem (pendidikan) faktanya selama diberlakukan banyak menuai protes. Banyak dikritisi sebab tidak tepat penerapannya.

    UN oleh banyak kalangan praktisi, penggiat, pakar, akademisi pendidikan salah satunya hanya melahirkan ketidakdilan. Makanya sejak awal diberlakukan, UN diimbau agar dihapuskan segera. Tidak adil secara aspek geografis pendidikan Indonesia.

    Keberanian eksekusi diwujudkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Kebijakan berani direalisasikan Menteri Nadiem.

    Sistem UN diubah. UN diganti. UN tidak ada lagi tahun 2021. Setelah selama ini hanya jadi arena perdebatan tanpa aksi.

    UN hanya bentuk ketidak adilan.

    Pemahamannya: UN jadi penentu tunggal, satu-satunya tolak ukur kelulusan murid sekolah. Yang cuma dilaksanakan beberapa hari.

    Sebagai satu-satunya penentu kelulusan murid, syarat nilai pun diseragamkan di seluruh Indonesia.

    Di beberapa daerah, ada sekolah yang gurunya lengkap. Infrastrukturnya baik. Seluruh pelajaran tersampaikan. Ada yang menerapkan les belajar tambahan. Jumlah sekolah banyak dan terjangkau.

    Di beberapa daerah lainnya, ada sekolah kekurangan guru. Murid tidak kenal perpustakaan. Murid yang harus berjalan jauh sebab minimnya sekolah. Kekurangan alat tulis. Murid tidak beralas kaki.

    Sangat tidak adil, bila UN jadi penyeragaman kelulusan murid.

    Data Perpustakaan Nasional tahun 2015, sebanyak 92 ribu SD di NTB, NTT, Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua, tidak terfasilitasi ruang perpustakaan. Data BPS tahun 2018, sebesar 50% anak-anak tidak mendapatkan tingkat pelajaran sesuai jenjang usia sekolahnya.

    Misalnya anak usia 12 tahun yang seharusnya berada di kelas 6 SD, tapi sebab kondisi yang terpencil dan terbatas pengajar, maka hanya memperoleh pelajaran tingkat kelas 3 SD.

    Dari berbagai data terhimpun. hingga tahun 2018, tingkat literasi membaca anak-anak murid di Indonesia Bagian Timur hanya 34,17%. Salah satunya sebab buku pendidikan yang sulit diperoleh.

    Dan masih banyak lagi data ketidak adilan jika UN diberlakukan sama ke semua murid sebagai penentu kelulusan.

    Menteri Nadiem mengubah sistem UN. Itu menunjukkan komitmen Menteri Nadiem dalam mewujudkan keadilan pendidikan ke depan.

    Guru dan sekolah yang paling mengerti kondisi serta situasi pendidikannya. Menteri Nadiem memberikan kemerdekaan bagi masing-masing Guru dan sekolah menentukan alat ukur kelulusan muridnya. Sesuai situasi dan kondisi lingkungannya. Sesuai kemampuan potensi muridnya.

    Merdeka belajar. Tidak ada UN. Itu yang diberikan Menteri Nadiem.

    Supaya adil antara kondisi, realitas dan tingkat kemampuan.*

    Ikuti tulisan menarik Ferguso Kubangun lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Hadirat Syukurman Gea

    3 hari lalu

    Analisis Sistem Jual-Beli Ijon pada Komoditas Mangga Berdasar Ekonomo Makro

    Dibaca : 204 kali

    Mangga merupakan salah satu komoditas buah yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mangga turut menyumbang perekonomian Indonesia karena menjadi komoditas yang di ekspor. Pada tahun 2015, ekspor mangga sebesar 1.515 jutatonyangsebagianbesarmerupakanjenis Mangga Gedong Gincu dan Mangga Arumanis. Kabupaten Kediri merupakan salahsatudaerahyang menjadikan mangga khususnya Mangga Podang sebagai oleh - oleh khas daerah dikarenakan banyaknya pohon mangga yang tumbuh di sekitar lereng GunungWilis.ManggaPodangkhasKediri banyak ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Wilis yaitu Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen. Semakin berkembang perekonomian suatudaerahmakasemakinberagam pula cara produsen dan konsumen melakukan jual beli.Salah satu sistem jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mengandung unsur gharar. Sistem jual beli ijon adalah salah satu sistem jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga dilarang oleh Allah SWT. Ijon berkaitan dengan perilaku produsen dan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan ekonomi mikro berupa keputusan pengusaha dan konsumen, terbentuknya harga barang atau jasa dan faktor produksi tertentu di pasar, dan alokasi sumber daya ekonomi.Penelitian ini menggunaka nmetode penelitian studi literatur. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa pengumpulan sejumlah studi pustaka. Berdasarkan studi literatur terkait sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro, diperoleh hasil analisis bahwa sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro saling berhubungan. Hal ini dikarenakan ijon berkaitan langsung dengan perilaku produsen dan konsumen dan ekonomi mikro turut mengatur perilaku produsen dan konsumen. Keywords: Ijon, Komoditas Mangga,Ekonomi Mikro