Nasehat Abah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 20 Desember 2019 06:10 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Nasehat Abah

    Dibaca : 3.045 kali


    Nak, Abah pesan untuk dicamkan dan menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat.

    Ingat ingat ya.

    Berhati hatilah dalam melakukan tindakan atau perbuatan yang berkaitan dengan orang banyak. Jangan kamu merasa hero, jangan kamu mengaku sebagai pahlawan dalam melaksanakan perbuatan yang berkaitan dengan orang banyak.

    "KADANG KITA MELAKUKAN TINDAKAN ATAU PERBUATAN, DILAKUKAN DENGAN BAIK, TUJUANNYA JUGA BAIK, BAHKAN DILAKUKAN DENGAN MENGORBANKAN HARTA KITA, TAPI UJUNGNYA BISA TIDAK BAIK!"

    Ingat itu.
    TIDAK BAIK BAGAIMANA?, Ya bisa jadi justru kita dianggap sebagai penghianat walaupun kita sudah melakukan kebaikan itu, bahkan mengorbankan harta kita sendiri. Mengapa ujung bisa tidak baik?


    Ada dua kemungkinan yang mengakibatkan HASILNYA TIDAK BAIK, yakni; bisa jadi karena faktor internal, bisa juga karena faktor eksternal. Faktor internal ini muncul dari diri kita sendiri. Macam macam pula ragamnya.

    Pertama, karena perilaku kita sendiri. Harus disadari bahwa perilaku kita selalu dinilai orang, ketika kita melakukan sesuatu tindakan atau perbuatan yang melibatkan banyak orang (orang lain) kemudian berhasil, perilaku kita kemudian berubah, seolah olah semua  itu berkat kita sendiri. Kita kemudian petantang petenteng, menganggap orang lain kecil, seolah kita saja yang punya peran. Perilaku seperti ini yang kemudian yang membuat ujung dari keberhasilan itu menjadi tidak baik.

    Kedua, karena ada perubahan ekonomi. Ini sering terjadi manakala antara keberhasilan dalam memperjuangkan sesuatu untuk orang banyak secara bersamaan ada perubahan ekonomi yang mencolok dalam diri kita. Orang kemudian menganggap apa yang kita perjuangkan itu hanyalah permukaan, karena dibalik perjuangan itu ada misi terselubung untuk kepentingan yang lebih besar dalam konteks relasi atau kepentingan usaha pribadi, dan itu berhasil.

    Hal seperti itu yang akan memunculkan ketidak baikan itu. Kita bangga dengan keberhasilan peningkatan ekonomi kita, tapi orang lain kemudian melabel kita tidak baik dan nilai kita menjadi minus. Biasanya jika ini terjadi, dihadapan kita di puji, di belakang malah sebaliknya. Ingat itu ya nak.

    Adapun faktor eksternal yang berujung menjadi tidak baik itu muncul karena situasi dan kondisi. Menyikapi ini kita harus hati hati, lakukan sesuatu dengan melihat situasi dan kondisi, jika kita salah melihat ini maka jaminannya adalah muncul akibat yang tidak baik.

    Abah gambarkan begini ya.

    Dulu Abah kedatangan tamu, sebut saja si A, maksudnya ingin minta tolong karena anaknya tidak bisa masuk sekolah lantaran belum bayar SPP. Sepatu anaknya sudah rusak, baju seragam sudah robek robek. Boro-boro buat biaya sekolah, beras di rumah juga sudah tidak kebeli. Si A ini bercerita ke Abah soal kondisi ekonominya yang morat-marit, hingga selalu ribut dengan istrinya.

    Dalam situasi seperti itu, Abah minta tolong supaya ngobrolnya enak. Abah minta tolong Si A untuk beli rokok di warung depan dua bungkus, untuk si A sebungkus, untuk Abah sebungkus. Ketika Si A ke warung, ternyata di situ ada si B, temannya juga. Saat itu Si B negur si A dengan mengatakan, enak yah ke rumah Abah, dikasih duit, di beliin rokok, “Saya ikut sih”, kata si B.
    Bukannya di ajak ke rumah Abah, si B malah di kasih bogem mentah alias di pukul oleh Si A. Terjadilah keributan.

    Nah ini contoh kalau kita salah melihat situasi dan Kondisi. Dalam peristiwa si A dan Si B ini, kongklusinya, si B sebetulnya baik, menegur dengan baik, maksudnya juga baik (ingin diajak ke rumah Abah), namun karena si B tidak melihat situasi dan kondisi si A yang lagi pusing, pikirannya lagi kalut, dikiranya si B nyindir. Maka dapatlah bogem mentah.

    Artinya apa yang dilakukan dengan baik dan tujuannya baik itu, ternyata ujungnya bisa tidak baik. Kenapa? Karena salah melihat situasi.

    Lantas bagaimana kita menyikapi jika perbuatan baik kita ujungnya jadi tidak baik atau mungkin ada yang nyetempel penghianat? Ya, tidak usah nggresulo (kata orang jawa), ngga usah mengeluh karena bisa jadi semua itu muncul lantaran perilaku kita atau adanya perubahan ekonomi yang mencolok dari kita bersamaan dengan apa yang kita perbuat dengan atau untuk orang banyak bahkan bisa jadi karena kita salah melihat situasi dan kondisi pada saat kita berbuat.


    Ingat itu ya nak.
    Mengerti kan?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.