Lockdown, Saudaraku, Komunitas Kerjaku! - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Corona

Sandyawan Sumardi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 25 Maret 2020 14:39 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Lockdown, Saudaraku, Komunitas Kerjaku!

    Tidak penting kalau kemudian pemerintah pusat akhirnya tidak merasa perlu adanya lockdown dalam menghadang wabah virus corona ini, tidak jadi mengadakan karantina wilayah. Dalam situasi hidup dan mati ini, masihkan kita hanya menggantungkan hidup kita sepenuhnya pada pemerintah?

    Dibaca : 882 kali

    Oleh I. Sandyawan Sumardi

     
    "Demi kemanusiaan yang adil dan beradab, lockdown saudaraku, komunitas kerjaku..!"
     
    Merebaknya  wabah virus corona ke seluruh penjuru dunia yang demikian cepat tak terkendali kini semakin menjadi isue dan kepanikan global. 
     
    World Health Organization (WHO) menetapkan coronavirus disease (Covid-19) sebagai pandemi pada Rabu, 11 Maret 2020. Penetapan itu didasarkan pada persebaran virus secara geografi yang telah mencapai 114 negara.
    Pandemi yang sangat berbahaya yang terus menyerang begitu banyak negara dengan akibat yang paling parah selain di Wuhan, provinsi Hubei, China dewasa ini adalah di Italia, Korea, Iran, dll. 
     
    Kengerian Itu
     
    Pemandangan yang amat memilukan itu baru-baru ini terjadi di Italia. 
     
    Agence France-Presse atau AFP, kantor berita Prancis, melaporkan Sabtu (21/3/2020), terjadi 627 kematian dalam sehari (24 jam) di Italia akibat terpapar virus Corona atau COVID-19. Mengutip laporan otoritas Italia, jumlah korban meninggal di Italia yang diakibatkan infeksi virus Corona, telah melampaui 4.000 orang.
     
    Bagaimana kita di negeri tercinta ini? Harus kita akui, pemerintah  dan masyarakat kita pada awalnya justru cenderung meremehkan dan terlalu percaya diri, terutama para pejabatnya, cenderung jumawa, menyatakan bakal siap menghadapi kemungkinan kalau Covid-19  masuk ke Indonesia.
     
    Namun kenyataannya amat menyedihkan. Tidak sampai 1 minggu kemudian, kegagapan dan kepanikan luar biasa telah menghinggapi kita semua di negeri ini. Penularan virus mematikan yang tak kasat mata dari manusia ke manusia, atau seluruh perlindungan raga dan area sekitar kita yang digunakan manusia juga dapat jadi perantaranya, ternyata kini sudah nyaris merasuk ke seluruh penjuru tanah air.!
     
    Kasus pasien positif corona kembali bertambah di negeri kita Indonesia pada Sabtu 21 Maret 2020 pukul 15.40 WIB. Jumlahnya kembali melonjak hingga 81 orang sehingga total keseluruhannya menjadi 450 orang. Selain itu, terdapat 6 orang tambahan pasien yang meninggal dunia sehingga jumlah korban tewas akibat virus corona COVID-19 menjadi 38 orang.
     
    Rasio kematian (mortality rate) akibat virus corona di Indonesia pun menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Berdasarkan data yang diolah dari situs satelit pemetaan ArcGis yang diakses pada Rabu (17/3/2020) pukul 17:33 WIB, rasio kematian akibat corona di Indonesia adalah 8,33%. Peluang untuk pulih masih sangat besar, lebih dari 90%.
     
    Namun kalau melihat negara-negara lain, Indonesia adalah salah satu yang tertinggi. Saat ini virus corona sudah 'membobol' 153 negara di dunia, dan tingkat kematian (rasio jumlah pasien berbanding korban jiwa) di Tanah Air berada di posisi 10 besar, tepatnya di peringkat 10.
     
    Gagap dan Tidak Disiplin
     
    Tradisi dan pola hidup komunal namun dengan penghayatan hidup cenderung hedonis terutama di kota-kota besar yang individualis, ternyata bukan hanya monopoli milik masyarakat Italia, Eropa, Amerika, Australia, beberapa negara Asia dan Afrika saja, tapi juga Indonesia. Ya, kita-kita ini warga Indonesia. Sangat tidak disiplin. Keadaan sudah begini gawat, peringatan dari pemerintah baik daerah maupun pusat untuk melakukan Social Distancing Meassure, mengambil jarak aman, sudah sedemikian rupa,  tapi masih saja banyak banyak sekali warga yang demikian abai. Tak peduli. Lebih percaya pada mis-conception keyakinan agamanya, kenyamanan kekuasaannya yang membabi-buta, tanpa terlalu peduli lagi pada nyawa sesama manusia.
     
    Belum lagi kalau kita sadar, betapa masih ada sedemikian banyak masyarakat dengan perkara yang berbeda, bukan terutama karena ingin abai dan kurang disiplin, yaitu sekian juta warga masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang kalau hari ini tak bekerja maka tak bakal bisa makan. 
     
    Selanjutnya: Belajar dari Pemulihan Wuhan



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.