x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 4 November 2023 06:04 WIB

Ayo, Selamatkan Mahkamah Konstitusi

Apabila Mahkamah Konstitusi mengalami demam parah akibat para hakimnya terinfeksi oleh nilai-nilai yang berkebalikan dengan nilai-nilai yang seharusnya ditegakkan, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk menyelamatkan institusi ini agar kehidupan berbangsa kita juga selamat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jika seorang hakim, apa lagi para hakim yang berarti lebih dari satu orang, diperiksa berkaitan dengan dugaan pelanggaran etika, maka ini sungguh tragis. Ini tragedi bagi bangsa ini, bukan perkara remeh temeh. Memang baru dugaan dari masyarakat bahwa ada kemungkinan pelanggaran dalam penetapan putusan beserta prosesnya, tapi dugaan inipun sudah mencerminkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap integritas para hakim.

Perkara etika lazimnya bukan terkait dengan kekeliruan tanpa sengaja dalam memutuskan karena salah pertimbangan atau salah memilih pasal sebagai rujukan, misalnya karena hakimnya ‘cupet’ pikiran. Perkara etika justru terjadi karena hakim mengerti bahwa sesuatu itu salah atau tidak tepat atau tidak layak, tapi mencari pembenaran dengan berbagai cara agar yang salah jadi benar atau yang tidak layak jadi layak.

Manakala hakim melakukan hal itu saat menyusun argumen dan pertimbangan untuk keputusannya, maka saat itu pula sudah ada niat untuk mengingkari hakikat ‘kearifan’ yang melekat dalam kata dan atribut ‘hakim’. Ia atau mereka juga mengingkari hakikat peranan hakim yang mestinya memberi putusan yang adil atas dasar kejujuran—jujur dalam melihat persoalan, jujur dalam berpikir dan bertindak, jujur dalam proses mengevaluasi dan menyimpulkan, serta jujur dalam memutuskan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika hakim Mahkamah Konstitusi diduga oleh masyarakat mengingkari nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kearifan dan karena itu diperiksa oleh majelis etik, maka inilah tragedi—bukan hanya sebatas tragedi dunia hukum, melainkan tragedi bangsa. Ini tak lain karena keputusan hakim Mahkamah Konstitusi mengikat seluruh bangsa ini. Keputusan MK itu panduan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam konteks hidup bernegara. Tatkala urusan hidup bernegara dipermainkan oleh pengingkaran terhadap nilai-nilai yang semestinya dipegang oleh hakim, apakah ini bukan tragedi?

Tatkala hakim kemudian merasa mampu membuat keputusan hukum apa saja untuk meluluskan kepentingan tertentu walaupun barangkali hati nuraninya menentang putusan itu, maka secara sadar ataupun tidak ia telah bermain peran seolah tuhan (playing god). Padahal, Tuhan yang sejati pun selalu bersikap adil, tak mau bersikap semena-mena meskipun kekuasaannya tak terhingga. Ini logika awam dan sederhana saja.

Kejujuran, rasa keadilan, serta kearifan para hakim Mahkamah Konstitusi itu merupakan syarat mendasar mengingat besarnya kekuasaan yudikatif yang diamanahkan pada mereka. Kekuasaan yang sangat besar tersebut berpeluang menjadi pisau tajam yang berbahaya bila pemegangnya bukan orang yang arif bijaksana, yang wawasannya terkungkung atau mudah diintervensi oleh kepentingan kekuasaan, yang rasa keadilannya mulai buram, serta lupa bahwa kelak ada Hakim Terakhir yang akan mengadili mereka atas keputusannya sebagai hakim di dunia.

Apabila Mahkamah Konstitusi mengalami demam parah akibat para hakimnya terinfeksi oleh nilai-nilai yang berkebalikan dengan nilai-nilai yang seharusnya ditegakkan, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk menyelamatkan institusi ini agar kehidupan berbangsa kita juga selamat. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler