Belajar Mencintai Laut - Travel - www.indonesiana.id
x

Pemandangan bawah laut Togean sangat cantik dan didukung oleh keanekaragaman biota laut dan karang-karangnya. Tempo/Ratih Purnama

matatita suluhpratita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Travel
  • Pilihan
  • Belajar Mencintai Laut

    Dibaca : 13.384 kali

    Cobalah bertanya pada teman-teman di sekitarmu, ada berapa banyak yang bisa berenang. Saya yakin jumlahnya tidak sebanyak yang tidak bisa berenang. Di kantor saya, yang jumlah karyawannya sekitar 12 orang itu, hanya ada 2 orang yang mengaku bisa berenang, yaitu saya dan seorang staf keuangan. "Tapi saya bisanya renang gaya kampung loh, gaya mandi di sungai," jelas rekan saya. Saya sendiri juga tak pernah secara khusus ikutan kursus renang. Saya mulai belajar berenang karena waktu kecil gemar mandi di kali. Setelah gede dan berkenalan dengan kolam renang, barulah saya belajar renang gaya kodok secara otodidak.

     

    Padahal, sebagai bangsa bahari yang katanya punya nenek moyang orang pelaut, mustinya berenang merupakan keahlian genetis orang Indonesia. Apalagi 3/4 wilayah Indoneia adalah lautan yang seluas sekitar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81 ribu km. Lahir jebrot, mustinya sudah diakrabkan dengan air.

     

    Di samping rendahnya minat untuk belajar berenang, kurikulum pendidikan di Indonesia juga kurang memberi ruang dalam memperkenalkan sumber daya kelautan ini pada para siswa. Sepanjang yang saya ingat, dari SD hingga SMA pelajaran geografi kelautan ini masih sebatas pada perjalanan kemaritiman Indonesia, di mana kita adalah bangsa bahari yang besar sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit. Tapi kami tidak pernah dikenalkan pada Raja Ampat (Papua) yang ternyata memiliki keragaman hayati tertinggi di dunia. Kami juga tidak tahu bahwa Ternate adalah pengekspor ikan sashimi terbesar di Asia.

     

    Minimnya edukasi kelautan yang saya terima dari sekolah dan lingkungan membuat saya kurang begitu tertarik pada laut. Puluhan tahun saya dibiarkan menganggap laut sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, nggak seeksotis suku-suku di pedalaman.

     

    Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri. Bisakah saya jatuh cinta pada luat Indonesia yang lebih luas ketimbang daratannya?

    Sekitar awal tahun 2005, saya berkesempatan mewawancarai Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc. Beliau adalah Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, pakar bidang perkapalan yang sejumlah inovasinya telah dipatenkan di Jepang dan Genewa. Yang menarik, Prof. Alex Kawilarang malah lebih suka mengembangkan kapal perikanan ketimbang kapal-kapal feri untuk mengangkut penumpang. "Banyak nelayan yang sering mengalami kecelakaan, tetapi tidak pernah diekspos media," katanya tentang salah satu alasannya memilih mengembangkan inovasi teknoogi kapal perikanan untuk nelayan.

     

    Saya terkagum. Bebincang dengan pakar yang ilmunya sama sekali tak saya pahami, ternyata menggiring saya mulai memperhatikan laut. Sorenya, saya memutuskan untuk menghabiskan malam terakhir saya di Manado dengan menginap di Pulau Bunaken. "Ke Bunaken itu enaknya berangkat pagi-pagi dari Manado, lalu kembali sekitar pukul 10 pagi," saran relasi saya. Umumnya wisatawan yang pengin melihat Taman Laut Bunaken dan tidak menyelam akan memilih trip singkat itu. Tapi saya kok nggak mantep ya, apa serunya cuma beberapa jam di Bunaken? Sudah begitu, sewa boatnya pun mahal, sekitar Rp 250.000. Nggak worthed banget kan?

     

    Lalu saya tetap berpegang pada pilihan semula: menginap semalam di Bunaken sebelum besok siangnya terbang kembali ke Jogja.

    Sore hari cukup banyak boat menuju Pulau Bunaken dan pulau-pulau di sekitarnya. Selain karena pada sore hari air laut cenderung surut dan angin tidak terlalu kencang, juga karena banyak orang pulau yang akan kembali setelah berbelanja di pasar. Jangan heran jika di dalam kapal itu banyak sekali muatan belanjaan kebutuhan sembako: berkarung-karung beras, berjerigen minyak goreng, sayuran, bahkan berbotol-botol minuman keras ramuan lokal (cap tikus). Membaur dengan warga setempat berikut belanjaannya di atas teluk Manado ini membuat saya jadi bergairah. Apalagi hanya butuh ongkos Rp 25.000 saja.

     

    Setelah tiga puluh menit terguncang di teluk Manado, akhirnya kapal merapat persis di Bastianos Diving Reasort. Saya langsung takjub melihat deretan bungalow yang berjejer di bibir pantai itu. Romantis sekali. Belum-belum saya sudah membayangkan suami yang di Jogja. Dan begitu mendapatkan kunci bungalow, saya makin takjub. Wow, ranjangnya berkelambu! Bayangkan, pondok kayu berundak di tepi pantai, dengan dinding-dinidng kayu, dan ranjang berkelambu bak kamar tidur pengantin baru!

     

    Malam tak bersuami di sebuah pulau seluas 8 km2 itu, saya nikmati dengan merenung. Sementara itu di living room, tampak beberapa bule yang membicarakan dive-trip esok hari. Dalam hati, saya menertawakan diri sendiri. Ke Bunaken kok nggak diving, nggak snorkling, nggak nyebur laut sama sekali. Jadi buat apa buang-buang uang bayar bungalow di tengah pulau ini? Ataukah sekedar untuk pamer posting kisah perjalanan di blog bahwa saya juga pernah ke Bunaken?

     

    Esok paginya, sebelum jadwal boat untuk umum mengangkut penumpang ke Manado pukul 10.00, saya menyempatkan menyewa glass bottom boat untuk melihat keindahan laut Bunaken. Uh, memalukan. Jauh-jauh ke Bunaken kok nggak nyebur ke laut sih? Pikiran saya masih dikacau dengan ketidaktertarikan saya akan berbasah-basah di laut. Padahal, saya kan bisa berenang dan bisa snorkeling. Tetapi kenapa saya tidak tertarik untuk nyebur ya?

     

    Sembari menikmati keindahan Taman Laut Bunaken dari kaca yang ditempatkan pada bagian bawah perahu, tiba-tiba saya teringat 'kangsenan' saya dengan seorang diver yang tinggal di Bali. "Kalau mau ke Bali lagi, kontak saya dulu. Supaya bisa ngepasin jadwal saya diving ke Menjangan," katanya ramah. Dan saya berjanji akan mengatur waktu dan menghubunginya segera. Mustinya, saya segera mengatur waktu ke Bali lagi. Tapi ternyata saya memilih mengulurnya. Menunda-nunda hampir setahun kemudian baru mengontaknya lagi. Alasannya sederhanya, karena saya kurang tertarik dengan laut dan nggak bisa diving! Tapi saya harus menemuinya.

     

    Akhirnya kami bertemu lagi di Teluk Terima, Bali Barat. Pagi itu ia akan mengajari dua orang muridnya menyelam di Menjangan. Beberapa rekannya juga ikutan bergabung untuk diving. "Beneran nih, nggak mau ikutan nyebur," tanyanya sekali lagi sebelum kami masuk ke boat. Lalu ditunjuknya sebuah ruangan yang berisi sejumlah peralatan snorkeling dan menyelam, termasuk wet-suit yang boleh saya pakai gratis. Tapi ternyata saya menggeleng.

     

    Jadilah hari itu saya merupakan satu-satunya penumpang boat yang nggak basah sama sekali. Selagi yang lain pada nyilem, berwisata ke bawah laut, saya malah menjelajah Pulau Menjangan. Kebetulan, ada sejumlah perahu merapat yang berisi orang Bali lengkap dengan pakaian adat dan sesaji di tangan. Begitu mereka turun dari perahu, saya mengikutinya. Rupanya, ada pura yang cukup besar di tengah Pulau Menjangan ini. Bahkan ada Pagoda Agung. Juga ada Pendopo Agung Dalem Patih Gadjah Mada. Nah lo berarti ada Hindu, Buddha, dan Jawa di pulau ini.

     

    Saya jadi semakin bersemangat menjelajah Pulau Menjangan, pulau yang hanya dikunjungi warga jika akan melakukan upacara adat. Pulau tak berpenghuni ini bagaikan hutan kecil. Asyik juga menyusuri jalan setapaknya, menyibak rerumputan dan ranting-ranting pohon. Menjangan tak hanya indah di kedalaman lautnya, tapi juga menyimpan eksotisme di atas tanah yang dilebati pohon-pohon.

    Saya baru kembali ke boat satu jam kemudian, nyaris bersamaan dengan mereka yang habis menjelajah kedalaman laut di sekitar Pulau Menjangan ini.

     

    Kali lain, saya menemukan eksotisme tersendiri di daerah yang menjadi destinasi wisata para diver, yaitu di Berau dekat Pulau Derawan. "Ya ampun Tita, masaka udah sampai Berau tapi nggak ke Derawan?" komentar teman-teman yang suka diving dengan penuh keheranan. Mereka juga semakin heran begitu saya kasih tahu bahwa sebenarnya sudah tersedia boat yang siap mengantar saya ke Derawan saat itu.

    Beberapa bulan sebelum ke Berau, saya mendapat tawaran dari Pimpinan sebuah NGO  untuk mengunjungi Derawan. Tentu saja saya tak ingin menolak. Hanya saja butuh ngatur waktu yang memungkinkan saya bisa terbang ke Berau dari Jogja.

     

    Waktu dan pekerjaan rupanya berpihak pada saya, meski hanya terbatas. Ketika itu saya bertugas ke Tarakan dilanjut ke Berau dan Samarinda. Saya segera menghubunginya menyampaikan rencana saya ke Berau. Senangnya mendengar jawaban di telpon yang begitu antusias. Bahkan setelah kami bertemu di Berau, sambutannya jauh lebih antusias dari yang saya bayangkan. Diajaknya saya ke kantor WWF Berau, ditunjukkannya saya foto-foto penyu yang lagi bertelur, diberinya saya buku-buku dan buklet tentang kawasan konservasi pulau Derawan.

     

    "Sore nanti kita bisa berangkat bersama ke Derawan. Boatnya sudah disiapkan," katanya membuat saya sedih karena saya tak bisa lama di Berau, cuma 2 hari. Itupun harus menemui seseorang yang cukup sibuk, sehingga belum bisa dipastikan kapan bisa bertemu. Sudah begitu, lusa harus tiba di Samarinda untuk urusan lain. "Kalau sore ini berangkat dan besok pagi kembali lagi mungkin nggak?" tawar saya. Dan ternyata tidak mungkin.

     

    Waktu tempuh dengan speed boad dari Berau ke Derawan sekitar 3 jam. Jika kami berangkat sore, baru tiba menjelang petang. Mengingat cuaca agak kurang bagus, tidak  menjamin esok harinya bisa kembali. Paling aman menginap 2 malam di Derawan dan baru kembali lusa. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dengan nggak enak hati, saya memutuskan untuk tidak ikut ke Derawan.

     

    Sore itu kemudian saya menghabiskan waktu menikmati suasana di pinggir Sungai Berau yang tiap senja dipadati pedagang kaki lima. Besok paginya, saya berketinting menyusuri sungai dan berwisata ke bekas Kasultanan Berau yang terletak di seberang sungai. Wisata sejarah yang nyaris terlupakan (atau malah terabaikan) oleh penikmat diving yang bergegas ke Derawan.

     

    Begitulah, beberapa kali tawaran untuk menyelami laut Indonesia sering saya lewatkan dengan sedih. Saya sudah menolak kebaikan orang-orang yang ingin menunjukkan keindahan negeri kita dari bawah laut.

     

    Setelah beberapa kali merasa bersalah, saya pun meniatkan diri untuk belajar diving di Tulamben, Bali. Dan, ternyata diving itu asyik. Tidak seserem yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan saya merasa dunia itu indah dan penuh warna saat menyelami kedalaman lautan. Tapi, kenapa ya di mata saya, ikan-ikan itu tak seeksotis suku-suku di pedamalan Nusantara yang membuat saya ingin mengenalnya lebih dekat. Keindahan dasar laut, belum membuat saya jatuh cinta, apalagi tergila-gila sampai nagih nyilem.

     

    Meski begitu, saya ingin ikutan menjaga kelestariannya. Dengan cara yang berbeda, tanpa harus mandi air laut dan nyilem. Bisakah? Saya tengah memikirkannya. Jalesveva Jayamahe.***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.